Sekolah Inklusi yang Ideal : Pengertian, Kurikulum, & Persyaratan

Sekolah Inklusi yang Ideal : Pengertian, Kurikulum, & Persyaratan

sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan antara murid berkebutuhan khusus dengan murid reguler.Anda mungkin bertanya apakah yang dimaksud dengan sekolah inklusi? Dalam tulisan ini kami mencoba membedah pengertian sekolah inklusi yang ideal, termasuk kurikulum, persyaratan, dan manfaat.

Sekolah inklusi, atau inklusif, masih jarang diketahui keberadaannya oleh masyarakat umum. Padahal, sekolah jenis ini telah ada sejak belasan tahun yang lalu. Bahkan bisa jadi ada orang tua yang tidak sadar bahwa anak-anaknya belajar di sekolah inklusif.

Sekolah inklusi sendiri bisa meliputi sekolah PAUD, sekolah SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi.

Mungkin hanya orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus lah yang menyadari apa yang dimaksud sekolah tersebut.

Pengertian Sekolah Inklusi

Sekolah inklusi merupakan sekolah anak yang memberikan pendidikan reguler baik untuk anak tidak berkebutuhan khusus ataupun Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Sekolah jenis ini biasanya ditunjuk oleh pemerintah agar dapat menerima peserta didik ABK seperti autisme dan anak dengan kecerdasan di atas rata-rata (jenius). Peserta didik dicampur, agar ABK tidak mengalami perbedaan yang signifikan.

Anak berkebutuhan khusus yang bisa dimasukkan ke dalam sekolah inklusif meliputi berbagai macam kategori. Ada anak ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), Sindrom Autisme, tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, tuna grahita, dan berbagai macam kategori lain.

Keberadaan sekolah ini merupakan program pemerintah yang didasari oleh Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 yang mengatakan, setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Landasan hukum selanjutnya, tertera pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3,5, 32, dan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 48 dan 49. Kedua payung hukum ini menegaskan bahwa negara, pemerintah, dan keluarga wajib memberikan kesempatan pendidikan seluas-luasanya kepada anak.

Selain memberikan layanan pendidikan yang seluas-luasnya, sekolah inklusif ini sebenarnya menjadi media untuk melatih interaksi anak ABK dengan anak non-ABK. Interaksi yang baik mampu menumbuhkan rasa menghormati perbedaan dan empati. Kendati merupakan sekolah regular, sekolah inklusi sejatinya memiliki prinsip pembelajaran yang tidak memaksakan bagi ABK.

Persyaratan Sekolah Inklusi yang Ideal

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah, hingga sekolah tersebut bisa menjadi sekolah inklusi yang ideal. Persyaratan tersebut meliputi kesiapan guru pendamping, kesiapan civitas akademika sekolah pada umumnya, kurikulum yang dibuat khusus, serta kesiapan sarana prasarana penunjang belajar.

1. Kesiapan Guru Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus

Guru pendamping yang memahami kondisi anak berkebutuhan khusus, merupakan persyaratan wajib. Guru ini mesti memahami apa itu autisme, hiperaktif, ADHD, atau berbagai sindrom lain yang dimiliki oleh murid inklusi nya.

Guru inklusi adalah garda terdepan dalam melakukan pendidikan bagi ABK. Mereka juga orang yang paling memahami cara melakukan komunikasi dengan murid-murid khusus tersebut. Dengan komunikasi yang lancar, maka proses belajar pun bisa dilaksanakan dengan baik.

Di sisi lain, guru pendamping juga harus mampu memberi pengertian pada murid-murid yang tidak memiliki kebutuhan khusus. Sehingga di satu titik, murid-murid di sekolah tersebut, akan menjadikan ABK sebagai teman-temannya juga. Tanpa sekalipun melakukan diskriminasi ataupun membully.

2. Kesiapan Civitas Akademika Sekolah

Selain guru pendamping, seluruh civitas akademika sekolah juga harus memahami kondisi murid-murid berkebutuhan khusus. Mulai dari penjaga sekolah, staf admin, CS, penjaga kantin, dan setiap orang yang berkegiatan di sekolah tersebut harus diberikan training.

Training ini meliputi pengertian anak berkebutuhan khusus, berbagai kategori, ciri-ciri, dan yang lebih penting, bagaimana memperlakukan seorang ABK.

Hal ini penting dilakukan, agar masyarakat di lingkungan sekolah siap menghadapi ABK. Training ini juga dimaksudkan agar tidak terjadi diskriminasi terhadap anak murid berkebutuhan khusus.

3. Kesiapan Kurikulum

Sebelum menerima murid berkebutuhan khusus, calon sekolah inklusi harus membuat kurikulum khusus. Kurikulum yang menggabungkan antara pemenuhan hak-hak pendidikan murid reguler dengan ABK.

Selain berisi mata pelajaran seperti di sekolah lain, kurikulum sekolah inklusi juga berisi pelajaran khas. Misalnya untuk tuna rungu, ada pelajaran bahasa isyarat. Sehingga murid ABK dan non ABK bisa berkomunikasi secara lancar. Sedangkan jika terdapat anak-anak tuna netra, maka terdapat pelajaran membaca dan menulis huruf braile bagi anak tersebut.

Kurikulum yang ada juga harus berisi motivasi dan toleransi. Pelajaran toleransi terutama ditekankan bagi murid-murid non ABK. Diharapkan dengan pelajaran ini, mereka lebih peka dan menghormati rekan-rekannya yang memiliki kebutuhan khusus.

Sedangkan pelajaran motivasi ditekankan untuk ABK.  Diharapkan dengan pelajaran ini, mereka bisa lebih percaya diri menghadapi dunia luar nantinya.

4. Kesiapan Sarana Prasarana

Ada saat-saat dimana siswa berkebutuhan khusus membutuhkan sarana tertentu. Misalnya untuk menerima pelajaran khusus bagi individu ABK, diperlukan ruangan tersendiri. Maka pihak sekolah inklusi harus menyediakan ruang-ruang kelas kecil untuk pengajaran tersebut.

Selain itu, alat bantu ajar juga diperlukan sesuai kekhususan siswa. Buku braile diperlukan bagi siswa tuna netra. Alat peraga khusus diperlukan oleh anak-anak tuna rungu. Kursi atau meja khusus akan dibutuhkan oleh siswa tuna daksa.

Diharapkan dengan penyedian sarana prasarana tersebut, akan memperlancar proses belajar mengajar di sekolah.

 

Kurikulum Sekolah Inklusi

Ada enam model pembelajaran yang diterapkan oleh sekolah inklusi, yakni:

(1) kelas regular/inklusi penuh yaitu ABK yang tidak mengalami gangguan intelektual, sehingga dapat mengikuti pelajaran di kelas biasa.

(2) Cluster para ABK dikelompokkan namun masih dalam satu kelas regular. ABK akan memerlukan pendamping khusus.

(3) Pull out ABK, dimaksudkan ABK ditarik ke ruang khusus untuk kesempatan dan pelajaran tertentu dengan guru pendamping khusus

(4) Cluster and pull out, merupakan kombinasi antara model cluster dan pull out,

(5) kelas khusus yakni sekolah menyediakan kelas khusus bagi ABK namun untuk beberapa kegiatan pembelajaran tertentu siswa digabung dengan kelas regular, dan

(6) khusus penuh, sekolah menyediakan kelas khusus ABK, namun masih satu kelas dengan anak regular.

 

Manfaat Sekolah Inklusi

sekolah inklusi yang ideal memiliki syarat yang meliputi kesiapan guru pendamping, kesiapan civitas akademika sekolah pada umumnya, kurikulum yang dibuat khusus, serta kesiapan sarana prasarana penunjang belajar.Ada banyak manfaat yang didapatkan di sekolah inklusif. Manfaat ini bisa dirasakan, baik oleh anak-anak berkebutuhan khusus, maupun oleh murid-murid lainnya. Beberapa manfaat sekolah inklusi diantaranya adalah:

1. Mempersiapkan Anak Berkebutuhan Khusus Menghadapi Dunia Luar

Di sekolah inklusi, murid-murid berkebutuhan khusus diberikan bekal untuk menghadapi dunia luar. Mereka akan bergaul dengan siswa reguler, sehingga diharapkan setelah dewasa, terbiasa juga bersosialisasi dengan masyarakat umum.

Selain itu, para ABK juga diberikan keterampilan tertentu sesuai kekhususan mereka. Misalnya untuk anak tuna netra, maka keterampilan menggunakan indera selain mata akan diasah lebih dalam. Terutama indera pendengaran dan perabaan mereka.

Yang lebih penting, di sekolah tersebut, para ABK akan dilatih mentalnya. Diharapkan, murid berkebutuhan khusus ini akan lebih berani dan percaya diri menghadapi dunia luar.

2. Mengkampanyekan Toleransi Bagi Murid Lain

Anak-anak yang terbiasa bergaul dengan ABK, diharapkan akan lebih peka. Kepekaan bahwa ada teman-temannya yang berbeda namun perlu dihormati sebagai sesama. Dengan bermodalkan kepekaan sejak dini inilah, diharapkan anak-anak yang belajar di sekolah inklusi, akan menjadi manusia toleran.

Dengan terbiasa bergaul bersama anak-anak berkebutuhan khusus, murid-murid ini juga bisa mempraktekkan toleransi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Praktek yang dilakukan tentu akan lebih melekat dan berkesan, dibandingkan hanya belajar toleransi dari buku-buku teori.

Tentu saja dalam aplikasinya, guru harus bisa membimbing dan mencontohkan.

3. Memberikan hak pendidikan yang sama bagi setiap anak

Banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat terpendam. Terkadang bakat mereka harus terkubur dalam-dalam karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengasahnya.

Diharapkan dengan belajar di sekolah inklusi, para ABK bisa menunjukan bakat mereka kepada dunia luar. Bakat inilah yang akan menjadi modal dasar mereka untuk berkarya dan memberikan sumbangsih pada dunia.

Di sisi lain, guru-guru yang terlibat dalam proses pendidikan ABK, diharapkan dapat lebih peka mengenali bakat terpendam muridnya. Karena tidak seperti murid ‘normal’ lainnya, terkadang melihat bakat para ABK ini membutuhkan kejelian yang lebih dari biasa.

 

Kesimpulan:

Setiap ABK memiliki potensi yang baik. Oleh sebat itu, sebaiknya janganlah dibedakan. Tak heran jika Organisasi Kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa (WHO) merekomendasikan keberadaan sekolah inklusi sejak tahun 1998.

Tidak hanya di Indonesia, sekolah inklusi juga menjadi fokus layanan sekolah anak yang penting di Korea. Seperti dikutip dari sebuah surat kabar, Jia Song Pemerhati Pendidikan di Korea menuturkan adanya sekolah inklusi mendorong pemerintah untuk menciptakan atmosfir pendidikan yang bermutu dan sistematis sesuai kebutuhan peserta didik.

Tinggalkan komentar