Sekolah Ramah Anak : Definisi, Tujuan, Indikator, Program, Ruang Lingkup

Sekolah Ramah Anak : Definisi, Tujuan, Indikator, Program, Ruang Lingkup

definisi sekolah ramah anakDulu, mungkin kita hanya mengenal macam-macam istilah sekolah anak. Mulai dari sekolah kejuruan, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan sebagainya. Kini, terdapat istilah baru yang mungkin masih asing di telinga namun menimbulkan keingintahuan. Apakah itu? Yuk simak ulasan sekolah ramah anak berikut ini.

Apa yang terbayang dalam benak anda ketika mendengar istilah sekolah ramah anak? Sekolah yang bisa membuat anak-anak tersenyum? Sekolah dimana guru dan murid-muridnya selalu tertawa bahagia?

Sebenarnya apa yang anda bayangkan tersebut tidak salah. Sekolah yang ramah untuk anak, akan membuat proses kegiatan belajar mengajar jauh lebih menyenangkan. Dengan demikian, suasana belajar pun lebih kondusif, yang pada akhirnya membuat murid dan guru bisa tersenyum bahagia.

Lalu apa definisi resminya?

 

Definisi Sekolah Ramah Anak

Sekolah ramah anak nyatanya bukanlah jenis baru dalam jenjang pendidikan pada sekolah formal anak. Sekolah ramah anak, pada tahun 2013 dikenalkan di Indonesia sebagai sebuah konsep pendidikan yang ideal diberikan pada anak usia sekolah.

Pada sekolah ramah anak, pendidikan berpusat pada diri sang anak. Proses belajar mesti didukung oleh keadaan sosial, fisik dan emosional yang positif, sehat juga aman.

Dari segi fisik, anak terjamin kesehatan, keamanan dan kenyamanannya. Tak ada jajanan di sekitar sekolah yang akan membuat anak sakit. Anak terlindungi dari orang asing yang bisa membahayakan keselamatan mereka. Murid-murid juga merasa nyaman dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas.

Dari sisi sosial, sekolah dibuat kondusif untuk mendukung proses belajar anak. Misalnya dengan membentuk civitas akademika yang berorientasi akademis namun tetap humanis. Guru-guru baik yang selalu menyemangati anak untuk belajar. Hingga ke penjaga sekolah yang peduli dan mampu tersenyum ramah.

Dalam hal emosi, anak-anak belajar karena suka dan cinta dengan pelajaran yang ada. Tidak ada seorang murid pun yang belajar karena takut dimarahi gurunya. Dengan demikian, pelajaran yang didapat di sekolah, akan lebih melekat hingga anak dewasa kelak.

Sekolah yang ramah anak bisa berupa PAUD, sekolah TKsekolah SD, ataupun sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi lagi.

 

Tujuan Sekolah Ramah Anak

Ada beberapa tujuan dibuatnya sekolah yang ramah bagi anak ini. Hal ini kami rangkum dari website nya Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA.id).

  1. Mengantisipasi tindakan kekerasan pada anak, guru, dan seluruh civitas akademika sekolah.
  2. Mencegah anak keracunan jajanan yang tidak sehat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Termasuk dalam hal ini juga pencegahan penyakit yang disebabkan lingkungan kurang sehat.
  3. Mengurangi potensi kecelakaan, baik yang disebabkan bencana alam, maupun karena kelalaian manusia.
  4. Mencegah anak dari paparan rokok, narkotika, minuman keras, dan zat adiktif lainnya.
  5. Membentuk lingkungan yang harmonis dan kondusif bagi seluruh civitas akademika sekolah.
  6. Membuat sistem pemantauan yang baik, terutama saat anak berada di lingkungan sekolah.
  7. Berperan dalam memudahkan tujuan pendidikan sekolah secara umum.
  8. Membuat lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan nyaman untuk ditempati.
  9. Menjadikan murid-murid betah tinggal dan berkegiatan di sekolah, sehingga mengurangi waktu mereka untuk berkeliaran di luar rumah.
  10. Menanamkan disiplin dan kebiasan baik di sekolah, bahkan terbawa hingga ke rumah.

Kesepuluh tujuan ini, dirumuskan oleh pihak sekolah dalam rencana kerja, serta kurikulum sekolah.

 

Indikator Sekolah Ramah Anak

indikator sekolah ramah anakAda beberapa indikasi apakah suatu sekolah itu bisa disebut sebagai sekolah ramah anak atau bukan. Dalam tulisan ini, kami membagi indikator tersebut ke dalam 3 aspek: keamanan fisik, lingkungan sosial yang kondusif, terciptanya aspek emosional yang positif. Berikut adalah penjabarannya:

1. Keamanan Fisik

Keamanan fisik seluruh civitas akademika sekolah, menjadi salah 1 indikator utama sebuah sekolah ramah anak. Ini berarti bahwa dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari, warga sekolah tidak terancam jiwanya.

Hal ini bisa terwujud jika sekolah memenuhi beberapa persyaratan. Pertama, sekolah harus berada di lingkungan yang terjamin keamanannya. Misalnya jauh dari jalan raya yang ramai dengan kecepatan kendaraan yang tinggi. Jika pun dekat dengan jalan tersebut, harus dipastikan bahwa pagar pembatas lingkungan sekolah, cukup kuat untuk menahan laju kendaraan.

Persyaratan kedua, lingkungan sekolah harus bersih dan bebas dari penyebaran penyakit menular. Misalnya, sekolah harus jauh dari tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Got, dan saluran air lainnya harus lancar, sehingga tidak menjadi sarang nyamuk DBD ataupun malaria.

Syarat ketiga, sekolah harus memiliki bangunan yang mampu mengurangi dampak bencana, seperti gempa dan kebakaran. Jika bangunan mudah terbakar, ataupun rapuh ketika terkena gempa bumi, maka berpotensi memakan banyak korban jiwa ketika bencana terjadi.

Syarat keempat, pihak sekolah harus menjamin kesehatan makanan ataupun jajanan yang dikonsumsi anak-anak. Jika sekolah memiliki kantin di dalam, maka seluruh penjual kantin harus ditegaskan kesediannya untuk hanya menjual jajanan sehat & bergizi.

Sedangkan jika banyak pedagang di lingkungan sekitar sekolah, pihak sekolah juga harus melakukan inspeksi rutin. Jika kedapatan ada pedagang yang menjual makanan/minuman tidak sehat, pihak sekolah harus menghimbau murid-murid untuk menjauhi pedagang tersebut.

2. Lingkungan Sosial yang Kondusif

Sekolah yang ramah bagi anak, harus bisa membangun lingkungan sosial yang kondusif, baik di internal sekolah itu sendiri, maupun dengan lingkungan eksternal sekitar.

Di lingkungan internal, seluruh warga sekolah harus mendapatkan pemahaman terkait tujuan, sasaran, dan langkah-langkah yang harus ditempuh guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang baik.

Baik guru, administrasi, hingga ke penjaga sekolah, harus memiliki orientasi akademis, namun tetap humanis. Sehingga terbentuk lingkungan harmonis yang mendukung pencapaian akademis.

Di sisi lain, pihak sekolah juga harus aktif bersilaturahim ke masyarakat sekitar. Jika diperlukan, masyarakat tersebut bisa diundang dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan sekolah.  Misalnya kegiatan pentas seni, olahraga, pramuka, PMR, dan berbagai kegiatan lainnya.

Ketika pihak sekolah secara terbuka membaur dengan masyarakat, maka warga sekitar sekolah pun akan turut menunjang tujuan akademis yang dicanangkan sekolah. Inilah salah satu indikator suksesnya sekolah ramah anak.

3. Aspek Emosional yang Positif

Indikator yang tak kalah penting adalah ketika sekolah berhasil membangun aspek emosional yang positif, terutama diantara murid-muridnya. Hal ini bisa terlihat dari semangat anak untuk datang ke sekolah, belajar dan berkegiatan disana.

Hal ini bisa diwujudkan ketika guru berhasil mendidik anak untuk mencintai kegiatan sekolah. Anak-anak belajar dan mengerjakan tugas bukan karena takut dihukum, melainkan karena anak-anak suka dengan pelajaran serta tugas-tugasnya.

Kecintaan terhadap pelajaran juga bisa dilihat ketika anak merasa kurang cukup mendapatkan materi di sekolah. Anak-anak yang suka sejarah misalnya, akan mengajak orang tuanya untuk mengunjungi berbagai museum dan meminta dibelikan buku/komik bertemakan sejarah.

Selain belajar, anak-anak juga suka mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang ditawarkan pihak sekolah. Anak yang suka olahraga, akan rajin datang ke ekskul sepak bola, bela diri, dan sejenisnya. Anak yang suka berpetualang, akan berusaha mengejar berbagai piagam dari ekskul pramuka. Sedangkan anak yang berjiwa sosial tinggi akan menyukai kegiatan yang diadakan PMR.

Dengan terciptanya aspek emosional yang positif diantara anak-anak, maka mewujudkan tujuan pendidikan di sekolah tersebut akan jauh lebih mudah.

 

Ruang Lingkup Sekolah yang Ramah bagi Anak

sekolah ramah anakDalam memenuhi aspek-aspek pengembangan diri anak usia sekolah, mulai dari pengenalan identitas dan usaha mewujudkan cita-cita, ada setidaknya 3 lingkungan yang paling berpengaruh dan dirasa penting untuk mengetahui dan menjalani fungsi dengan. Berikut 3 lingkungan tersebut :

1. Rumah

Inilah tempat utama dan awal pembentuk kepribadian dan pendidikan, juga tempat berekspresi dan memperoleh perlindungan. Di rumah inilah seorang anak membangun fondasi dasar, baik secara fisik, kognitif, maupun psikososial.

Ketika orang tua berhasil membangun fondasi yang baik bagi anak-anaknya, maka tugas sekolah akan jauh lebih mudah. Oleh sebab itulah, sekolah ramah anak, diharapkan untuk memberikan pembekalan bagi orang tua murid. Pembekalan ini bisa berupa pelatihan parenting, workshop, ataupun metode lain yang lebih memungkinkan.

2. Sekolah

Fasilitator dalam pengembangan diri, motivator dan penyedia pendidikan lanjutan yang bermanfaat bagi anak. Di sekolah juga, anak akan dikenalkan dengan peran baru dan belajar untuk menemukan kewajiban dan haknya.

Di sekolah, anak juga akan belajar bersosialisasi dengan teman sebaya. Di saat-saat tertentu, anak juga akan praktek bekerjasama dan berkolaborasi membangun suatu karya. Sehingga ketika mereka dewasa, anak-anak akan lebih terampil bekerja bersama-sama rekan-rekannya.

3. Masyarakat

Tempat pengembangan diri lanjutan, dimana anak berinteraksi dengan segala nilai yang telah dipelajarinya. Masyarakat juga membantu memasukan nilai dan norma baru seperti kesopanan, hukum dan kesusilaan.

Di masyarakat inilah, fondasi dasar anak yang dibangun dalam keluarga, dan pendidikan lanjutan yang didapat di sekolah, akan diimplementasikan secara nyata. Dengan mempraktekan nilai-nilai tersebut, anak akan mendapatkan umpan balik (feedback). Dengan umpan balik tersebut, anak pun akan belajar untuk memperbaiki sikap, dan pola kerjanya.

 

Prinsip Penyelenggaraan Sekolah Anak

1. Sekolah adalah tempat bermain yang mengasyikan juga ‘sehat’ yang mendukung persaingan dan reward. Namun tidak lupa untuk memupuk jiwa kerja sama dalam bermain dan belajar secara berkelompok.

2. Hadir di semua lapisan masyarakat.

3. Mendorong keaktifan dan daya kreatifitas peserta didik dimana guru hanya menjadi fasilitator.

4. Memberikan perlindungan atas berbagai kebutuhan anak. Seperti perlindungan psikologis, perlindungan atas isu-isu perbedaan dan adanya fasilitas penunjang kesehatan.

 

Itulah sedikit gambaran mengenai sekolah ramah anak. Dengan mengetahui sedikit gambaran ini diharapkan bisa membantu dan mendukung sekolah anak sebagai tempat yang menyenangkan, dan bukan sebaliknya.

Tinggalkan komentar